Author: Witaningsih pada : 19 Agustus 2008
Flextersolo akan mengadakan
Pelatihan Pijat Bayi Untuk Tumbuh Kembang Bayi Sehat.
Pelatihan akan diselenggarakan tanggal 30 Agustus 2008, bertempat di Aula Telkom Solo, dengan materi :
Pengantar Anatomi Untuk Pembekalan Memijat Bayi, Teori Memijat Bayi, Praktek Memijat Bayi, Evaluasi.
Biaya Rp. 100.000,-
Kalau ada yang berminat segera hubungi Wita di 02717975078
Author: Witaningsih pada : 18 Agustus 2008
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Salam hangat, semoga dalam menjalankan tugas sehari-hari selalu mendapat bimbingan dan petunjuk-Nya. Amien.
Tgl 30 Agustus 2008, Flextersolo (anggota Flexi milis) mengadakan Pelatihan Pijat Bayi Untuk Tumbuh Kembang Bayi Sehat, bertempat di Aula Telkom Gladag, Solo. Biaya 100.000,-. Peserta dibatasi 60 orang. Pendaftaran ditutup tgl 28 Agustus 2008, bila sebelum tgl 28 Agustus 2008 peserta sudah memenuhi jumlahnya, maka pendaftaran ditutup.
Tolong ini disosialisasikan kepada rekan-rekan yang membutuhkan.
Terimakasih atas kerjasamanya.
Wasalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Wita, 0271-7975078
Author: Witaningsih pada : 29 Juli 2008
Ini adalah jawaban dar pertanyaanmu dulu itu Anwar. Jadi sebetulnya gejala sisa dari stroke itu sama dengan cedera kepala yang berat. Ni.... baca yaaa.... kalau belum jelas tanya aja... Semoga bermanfaat bagi ayahmu ya... Semoga baktimu pada ayahmu dicatat AlLah sebagai catatan amal kebaikan bagimu dan bagi ayahmu.
Penyebab:
Cedera pada otak karena trauma bisa disebabkan oleh kecelakaan lalulintas maupun kecelakaan kerja. Hal tersebut di atas diawali dengan benturan yang sangat keras pada kepala, yang pada proses selanjutnya di dalam tempurung kepala, gaya yang terjadi akan dipantulkan ke sisi yang berlawanan, yang akan menimbulkan jejas baik ringan sampai berat. Hal ini disebut commotio cerebri dan contusio cerebri.
Pada kasus yang ringan disebut commotio cerebri yaitu trauma tanpa disertai gejala fokal, yang terjadi adalah odema cerebri. Kemudian yang lebih berat lagi adalah contusio cerebri yaitu trauma yang disertai gejala fokal, di mana terjadi perdarahan intracerebral yang berupa epidural haemorrhage, subdural haemorrhage maupun intracerebral haemorrhage. Cedera yang telah disebutkan di atas tentu akan menimbulkan masalah pada pasien tersebut, dan hal yang menjadi perhatian pada penanganan fisioterapi adalah penurunan sampai hilangnya kemampuan fungsional pasien tersebut.
Peran serta fisioterapi.
Akibat yang paling ringan yang memungkinkan seorang fisioterapis berperan aktif adalah penurunan kemampuan fungsional akibat tirah baring lama. Pada pasien tirah baring lama akan terjadi penurunan kapasitas vital paru, nafas yang pendek, serta penurunan massa otot dan penurunan kekuatan otot. Pada cedera yang lebih berat kemampuan fungsional pasien akan menurun, yang secara kasat mata nampak seperti pasien hemiplegia karena stroke/CVA.
Berangkat dari hal-hal tersebut di atas, maka peran fisioterapi bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan, pada kasus-kasus yang berat penanganan fisioterapi dilakukan sejak pasien masih dirawat di ICU, setelah dokter yang merawat mengadviskan, biasanya setelah ditegakkan diagnosis pasti yang timbul karena cedera kepala tersebut, atau setelah diputuskan penanganannya secara konservatif atau secara operatif. Bila ditangani secara konservatif, biasanya pasien akan diadvis fisioterapi setelah tanda-tanda vitalnya stabil. Bila ditangani secara operatif, biasanya pasien akan diadvis fisioterapi setelah keluar dari RR (kamar pulih sadar), atau setelah di ICU.
Penanganan fisioterapi pada pasien pada tahap tidak sadar.
Pada tahap ini yang dilakukan oleh fisioterapi adalah pemeliharaan fungsi pernafasannya dengan memberikan latihan pernafasan secara pasif yang ditujukan untuk mengoptimalkan kapasitas vital paru; pemeliharaan lingkup gerak sendi-sendi serta pemeliharaan panjang otot-otot ekstremitas dengan memberikan latihan gerak pasif secara lembut pada ekstremitas, yang ditujukan untuk mencegah kekakuan sendi; serta pemeliharaan kesehatan otot dengan massage yang lembut yang ditujukan untuk mengoptimalkan sirkulasi darah yang baik di dalam otot. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah perubahan posisi tidur tiap 2 jam dengan berkolaborasi dengan perawat atau penunggu pasien.
Penanganan fisioterapi pada pasien pada tahap sadar penuh.
Pada tahap ini, diharapkan pasien mampu melakukan orientasi terhadap ruang dan waktu, serta tidak mengalami hambatan komunikasi. Latihan yang diberikan fisioterapi meliputi pemeliharaan fungsi pernafasannya dengan memberikan latihan pernafasan secara aktif yang ditujukan untuk mengoptimalkan kapasitas vital paru, pengasatan sikap bila ada timbunan secret di paru-parunya; pemeliharaan lingkup gerak sendi-sendi serta pemeliharaan panjang otot-otot ekstremitas dengan memberikan latihan gerak pasif secara lembut pada ekstremitas, yang ditujukan untuk mencegah kekakuan sendi; serta pemeliharaan kesehatan otot dengan massage yang lembut yang ditujukan untuk mengoptimalkan sirkulasi darah yang baik di dalam otot. Tidak lupa dilakukan juga latihan gerak aktif untuk meningkatkan kekuatan otot-otot ekstremitas, yang dilakukan bertahap mulai gerak aktif secara bebas, gerak aktif dengan tahanan yang ditingkatkan terus dari tiap-tiap sesi latihan.
Selain yang disebutkan di atas, yang tidak kalah penting adalah latihan gerak fungsional, yaitu gerakan yang bermakna bagi aktifitas keseharian pasien. Dari sekian banyak latihan gerakan fungsional, pada tahap latihan duduk, dimulai dengan setengah duduk dengan tungkai selonjor. Apabila pada posisi tersebut pasien mampu bertahan 15' tanpa disertai rangsangan meningeal, maka latihan ditingkatkan dengan duduk tegak dengan tungkai selonjor. Ditingkatkan lagi dengan duduk ongkang-ongkang, kemudian latihan berdiri dan berjalan. Namun harus tetap diingat bahwa pada tiap peningkatan latihan, sebelumnya harus diawali dengan tidak adanya rangsangan meningeal pada saat melewati sesi latihan sebelumnya.
Peran serta keluarga atau pendamping pasien.
Terutama sekali segera setelah pasien keluar dari rumah sakit, karena dari 24 jam sehari, kunjungan Fisioterapis paling lama hanya 1-2 jam saja. Maka, sehebat apapun Fisioterapisnya, latihan yang diberikannya tidak akan bermakna apa-apa tanpa peran serta keluarga secara aktif untuk melakukan latihan-latihan sebagaimana yang diajarkan, serta mendorong dan memberi kesempatan kepada pasien untuk kembali belajar melakukan segala sesuatu dengan mandiri, namun tetap dengan pengawasan dan pendampingan. Penghargaan positif secara verbal maupun visual atas keberhasilan pasien melakukan upaya-upaya peningkatan kemampuan diri harus senantiasa dilakukan agar rasa percaya dirinya timbul dan apabila belum berhasil, tetap berikan penghargaan atas usaha yang telah dikerahkannya dalam melakukan aktifitas tersebut.
Tak lupa, selayaknya manusia biasa, pasien juga membutuhkan rekreasi. Tidak perlu ke tempat-tempat rekreasi, sekedar keluar dari kamar, atau bahkan diajak duduk di bawah kerindangan pohon, cukup baik bagi kesehatan mental pasien tersebut. Bisa dibayangkan, pasien tersebut, sebagai orang yang dalam jangka waktu lama hanya berada di dalam kamar dengan ukuran tertentu dan hanya bisa memandang tembok dan langit-langit, bisa dipastikan setelah sekian waktu, pasien tersebut pasti mengalami gangguan psikis, yang bila tidak ditanggulangi akan mengganggu proses kearah kemajuan secara fisik maupun fungsionalnya.
Latihan-latihan yang bisa dilakukan bersama keluarga.
Dimulai dari pemberian bantuan penuh saat latihan perawatan diri secara sederhana, seperti makan dan minum, menggosok gigi, sibin, membersihkan diri setelah bak dan bab, berpakaian ditingkatkan menjadi pemberian bantuan minimal, kemudian tanpa bantuan sama sekali namun dengan pengawasan, baru kemudian dilakukan sendiri. Demikian juga untuk kegiatan berpindah dan berjalan.
Aktifitas paling baik adalah yang melibatkan anggauta tubuh kiri dan kanan secara bersama dalam satu kegiatan yang sama, misalnya makan dengan sendok dan garpu, melipat pakaian-pakaian, membuat origami, bertepuk tangan sambil menyanyi, menari, meronce manik-manik, main lempar tangkap bola dan lain-lain.
Keberhasilan penanganan pasien ditunjang oleh banyak faktor, bagaimanapun pasien yang kooperatif dan keluarga yang komunikatif dan penuh dukungan kasih sayang adalah modal utama setiap upaya penyembuhan yang diputuskan untuk dilakukan, dan semoga tulisan yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya.